Tampilkan postingan dengan label Cerita Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Oktober 2009

Seorang Wanita Dalam Sebuah Misi

Sidra Khan melaporkan tentang ajakan Aisha Bhutta pada dunia untuk memeluk Islam
The Guardian (London) Kamis 8 Mai 1997.

Aisha Bhutta, dengan nama gadisnya Debbie Rogers, tampak tenang. Dia duduk di atas sofa dalam ruangan depan yang luas di rumah tempat tinggalnya di Cowdaddens, Glasgow. Dindingnya dihiasi dengan kutipan dari Alquran, sebuah jam khusus untuk mengingatkan keluarganya akan jam salat dan sebuah poster kota suci Mekah. Mata biru Aisha yang tajam bersinar dengan penuh semangat laksana semangat pengabar injil, dia tersenyum dengan pancaran cahaya yang hanya dimiliki oleh orang mukmin sejati. Wajahnya sangat jelas merupakan wajah gadis Skotland--tidak ada basa-basi, berselera humor baik--tetapi tertutup oleh hijab dengan baik.


Bagi seorang gadis Kristen yang baik yang pindah memeluk Islam dan menikah dengan laki-laki muslim, hal ini cukup luar biasa. Tetapi lebih dari itu, dia juga telah mengislamkan orang tuanya, kebanyakan keluarganya dan paling tidak tiga puluh orang teman dan tetangganya.

Keluarganya adalah pemeluk Kristen keras dengan mereka, Rogers biasanya menghadiri pertemuan Pasukan keselamatan. Ketika seluruh remaja di Britania mencium poster George Michael mereka dan mengucapkan selamat malam, Rogers punya foto Yesus tergantung di dinding kamarnya. Kemudian dia dapati bahwa Kristen tidak cukup; terlalu banyak pertanyaan yang tak terjawab dan dia merasa tidak puas dengan kekurangan struktur yang teratur dalam keyakinannya. "Ada lebih banyak hal yang harus kupatuhi daripada berdoa ketika aku merasa menyukainya."

Aisha pertama kali melihat calon suaminya, Muhammad Bhutta, ketika dia berumur 10 tahun dan menjadi pelanggan tetap di sebuah toko, yang dikelola keluarganya. Dia melihatnya sedang salat di belakang. "Ada keridhaan dan kedamaian dalam apa yang dilakukannya. Dia bilang dia adalah seorang Muslim. Saya berkata, "Apa itu Muslim?"

Selanjutnya dengan bantuannya, dia mulai melihat Islam lebih dalam. Pada usia 17 tahun, dia sudah membaca seluruh isi Alquran dalam bahasa Arab. "Segala sesuatunya saya baca," ucapnya, "Menimbulkan suatu perasaan."

Dia membuat keputusan untuk memeluk Islam pada umut 16 tahun. "Ketika saya mengucapkan kalimat syahadat, saat itu terasa bagaikan melepas beban berat yang selama ini saya pikul di pundak. Saya merasa seperti bayi yang baru dilahirkan."

Meskipun sudah memeluk Islam, orang tua Muhammad menentang pernikahan mereka. Mereka memandang dirinya sebagai seorang gadis barat yang akan menggiring anak tertua mereka pada kesesatan, dan membuat jelek nama keluarga. Dia sebagaimana diyakini oleh bapaknya Muhammad adalah "musuh terbesar." Walaupun demikian, pasangan ini menikah di masjid setempat. Aisha memakai pakaian yang dijahit tangan oleh ibunya Muhammad dan saudari-saudarinya yang menyelinap menghadiri upacara menentang keinginan dari bapaknya yang menolak untuk hadir.

Adalah nenek tertuanya yang membuka jalan dan ikatan antara para wanita. Dia datang dari Pakistan di mana pernikahn campur ras merupakan hal yang tabu, dan dia mendesak untuk bertemu dengan Aisha. Dia sangat terkesan dengan fakta bahwa dia telah belajar Alquran dan bahasa Punjab kemudian dia meyakinkan yang lainnya. Perlahan, Aisha, sekarang 32 tahun, menjadi bagian dari keluarga itu. Orang tua Aisha, Michael dan Marjory Rogers, bagaimanapun menghadiri pernikahan, mereka lebih khawatir dengan pakaian yang sekarang dipakai anak gadisnya dan apa yang akan dipikirkan para tetangga.

Enam tahun kemudian, Aisha memulai misi untuk mengislamkan mereka dan keluarganya yang lain, kecuali saudari perempuannya (saya masih berusaha). "Suami saya dan saya berusaha mengislamkan ibu dan ayah, memberitahu mereka tentang Islam dan mereka melihat perubahan pada diriku, seperti, saya telah berhenti membantah." Ternyata ayah Aisha lebih sulit direkrut, maka dia mendapat bantuan dari ibunya yang baru Islam (yang telah meninggal karena kanker). "Ibu dan saya terus berbicara pada ayah tentang Islam dan ketika kami sedang duduk di sofa dapur, suatu hari ayah bilang, "Apa kata-kata yang kalian ucapkan ketika menjadi seorang Muslim?" "Saya dan Ibu langsung melompat ke atasnya."

Tiga tahun kemudian, saudara Aisha memeluk Islam melalui telepon--terima kasih pada British Telecom. Kemudian istri dan anak-anaknya ikut, dan diikuti oleh anak laki-laki dari saudarinya. Ini tidak berhenti di situ. Keluarganya memeluk Islam. Aisha mengalihkan perhatiannya pada orang-orang Cowcadden.

Setiap Senin selama 13 tahun yang lalu, Aisha mengajar tentang Islam untuk wanita-wanita Skotlandia. Sejauh ini dia telah membantu mengislamkan lebih dari 30 orang. Para wanita itu berasal dari latar belakang aturan yang membingungkan. Trudy, seorang dosen di Universitas Glasgow dan mantan seorang Katholik, menghadiri pelajaran Aisha murni karena ia ditugasi untuk menulis beberapa penelitian. Tetapi setelah enam bulan mengikuti, dia masuk Islam, dan memutuskan bahwa Kristen terlalu berbelit-belit dengan ketidakkonsistenan logika. Tidak seperti Aisha, Trudy memilih untuk tidak memakai hijab, karena yakin bahwa itu interpetasi kaum lelaki terhadap Alquran. Keluarganya tidak tahu bahwa dia telah masuk Islam.

"Bisa saya katakan bahwa dia mulai terpengaruh dengan pembicaraan," kata Aisha. Bagaimana dia bisa katakan? "Saya tidak tahu, itu hanya perasaan." Kelasnya terdiri dari gadis-gadis muslim yang terpengaruh idealisme barat dan perlu diselamatkan, wanita muslim yang berpengalaman yang ingin sebuah forum terbuka untuk diskusi mengasingkan mereka di masjid setempat yang didominasi pria, dan ini benar-benar menarik dalam Islam. Aisha menyambut baik semua pertanyaan. "Kita tidak bisa mengharapkan orang-orang untuk percaya secara buta."

Suaminya, Muhammad Bhutta, sekarang 41 tahun, kelihatan tidak terlalu tergerak untuk mengislamkan orang laki-laki Skotlandia. Dia biasanya membantu restoran keluarga, tetapi tujuan utamanya dalam hidup ini adalah untuk menjamin lima anak pasangan ini tumbuh sebagai muslim. Yang tertua, Safia, hampir 14 tahun tidak menolak rasa malu untuk mengislamkan orang. Suatu hari dia bertemu seorang wanita di jalan dan membawakan belanjaannya, wanita itu menghadiri pelajaran Aisha dan sekarang dia seorang muslim.

"Saya bisa katakana dengan jujur bahwa saya tidak pernah menyesalinya," ucap Aisha tentang masuk Islamnya dia. "Setiap pernikahan mengalami pasang surut dan kadang-kadang anda butuh sesuatu untuk mendorong anda keluar dari kesulitan. Tetapi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Setiap kesulitan itu memiliki kemudahan." Maka ketika anda menghadapi situasi sulit, anda berusaha agar kemudahan itu datang." Muhammad lebih romantis, "Saya merasa kami sudah saling mengenal satu sama lain selama berabad-abad dan tidak terpisahkan satu sama lain. Menurut Islam, anda tidak hanya teman hidup, anda bisa menjadi teman di surga dengan baik selamanya. Itu merupakan hal yang indah, anda tahu itu."



Sumber : http://www.geocities.com

Read more...

Amal yang Membuka Pintu Surga

Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih awal menjelang asar. Fatimah binti Rasulullah menyambut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa wang lebih banyak kerana keperluan di rumah makin besar. Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. "Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa wang sesenpun." Fatimah menyahut sambil tersenyum, "Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta'ala." "Terima kasih," jawab Ali. Matanya memberat lantaran isterinya begitu tawakkal. Padahal keperluan dapur sudah habis sama sekali. Pun begitu Fatimah tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih.


Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan sholat berjamaah. Sepulang dari sembahyang, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua. "Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?" Ali menjawab dengan hairan. "Ya betul. Ada apa, Tuan?". Orang tua itu mencari kedalam begnya sesuatu seraya berkata: "Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar upahnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah wang ini, sebab engkaulah ahli warisnya." Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.

Tentu saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak di sangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari.

Ali pun bergegas berangkat ke pasar. Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, "Siapakah yang mahu menghutangkan hartanya kerana Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan." Tanpa berfikir panjang, Ali memberikan seluruh wangnya kepada orang itu.

Pada waktu ia pulang dan Fatimah kehairanan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya. Fatimah, masih dalam senyum, berkata, "Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta kerana Allah daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan yang menutup pintu syurga untuk kita.




Sumber : http://www.van.9f.com

Read more...

Rabu, 14 Januari 2009

Orang Saleh Meninggal Setelah mendengar Ayat Al Quran

Mansur bin Ammar r.a berkata, "Suatu hari aku singgah di kota Kufah. Ketika aku berjalan di kegelapan malam, aku mendengar tangisan memelas seorang lai-laki dari dalam sebuah rumah. Lelaki itu berkata, "Ya Tuhanku, demi kemuliaan dan keagungan-Mu, hamba tidak bermaksud mendurhakai-Mu dengan kemaksiatan-kemaksiatan hamba, tetapi hamba berbuat maksiat itu karena ketidaktahuan hamba akan siksa-Mu. Dengan tali siapa hamba berpegang teguh jika Engkau memutuskan tali-Mu dari hamba? Oh betapa berdosanya hamba!Tolonglah hamba yaa Allah!"


Mansur bin Ammar meneruskan, "Ucapan lelaki itu membuatku menangis. Aku pun berhenti di ndepan rumahnya dan membacakan ayat untuknya, "Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS At-Tahrim:6). Tiba-tiba aku mendengar teriakan keras lelaki itu dan suara gaduh dalam rumahnya. Aku pun berhenti sampai suara lelaki itu terhenti, kemudian aku pergi.

Keesokan harinya, aku datang ke rumah lelaki itu. Aku mendapatkan orang itu sudah meninggal dan orang-orang sedang mengurus jenazahnya. Aku melihat seorang wanita tua sedang menangis. Aku menanyakan perihal dirinya dan orang-orang menjawab bahwa dia adalah ibu si mayyit. Aku mendekati wanita tua itu dan menanyakan keadaan si mayyit ketika hidup. Wanita itu menjawab, "Dia orang yang rajin berpuasa dan melakukan salat malam. Dia senantiasa mencari rezaki yang halal dan membagi penghasilannya menjadi tiga, sepertiga untuk nafkah dirinya, seprtiga untuk menafkahi diriku, dan sepertiganya ia sedekahkan. Tadi malam ada seseorang yang lewat, saat ia sedang membaca Al Quran, ia mendengar (orang itu membaca) suatu ayat dari Al Quran dan kemudian ia meninggal."

Read more...

Minggu, 19 Oktober 2008

Rasulullah S.A.W. dan Pengemis Yahudi Buta

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya". Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja". "Apakah Itu?", tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha.

Ke esokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "siapakah kamu ?". Abubakar r.a menjawab, "aku orang yang biasa". "Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.


Sumber : http://beritaelektronik.blogspot.com

Read more...
E-mailPtr.com

Ingin Berlanggan ?.Masukan Email Anda:

Delivered by FeedBurner

  © Blogger template AutumnFall by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP